Welcome My Blog, Selamat membaca :)
Selasa, 24 September 2013
Tulang Manusia
Tulang atau kerangka adalah penopang tubuh Vertebrata. Tanpa tulang, pasti tubuh
kita tidak bisa tegak berdiri. Tulang mulai terbentuk sejak bayi
dalam kandungan, berlangsung terus sampai dekade kedua
dalam susunan yang teratur.
Pertumbuhan tulang selengkapnya terbentuk pada umur lebih kurang 30 tahun.
Setelah itu ada juga perubahan yang disebut remodelling. Tulang merupakan
reservoir terbesar dari kalsium dan phosphate. 99%
kalsium terdapat di tulang (1000 gram) dari jumlah kalsium tubuh, sedangkan
phosphate dalam tulang mencapai 90% dari phosphate dalam tubuh.
Tulang rangka manusia dapat di golongkan menjadi 3 bagian yaitu:
susunan tulang manusia :
I. Tengkorak
a. Bagian kepala
Ø 1 tl. Dahi
Ø
2 tl. ubun-ubun
Ø
1 tl. kepala belakang
Ø
2 tl. Baji
Ø
2 tl. Pelipis
b. Bagian muka
Ø 2 tl. rahang
atas
Ø 2 tl. rahang bawah
Ø 2 tl. Pipi
Ø 2 tl. langit-langit
Ø 2 tl. Hidung
Ø 2 tl. air mata
Ø 1 tl. lidah
II. Badan
Ø Ruas tl. Belakang
Ø 7 ruas tl. Leher
Ø 12 ruas tl. Punggung
Ø 5 ruas tl. Pinggang
Ø 5 ruas tl.kelangkang
Ø 4 ruas tl. ekor
b. Tulang dada
c. Tulang rusuk
Ø 7 ps. tl. rusuk
sejati
Ø 3 ps. tl. rusuk
palsu
Ø 2 ps. tl. rusuk
melayang
d. Tulang
gelang bahu
Ø 2 tl. Belikat
Ø 2 tl. selangka
e. Tulang
panggul
Ø 2 tl. Usus
Ø 2 tl. Duduk
Ø 2 tl. kemaluan
C. Tulang anggota gerak
a. Tulang legan
Ø 2 tl. lengan
atas
Ø
2 tl. Hasta
Ø
2 tl. Pengumpil
Ø
2 x 8 tl.
pergelangan tangan
Ø
2 x 5 tl.
telapak tangan
Ø 2 x 14 ruas tl.
jari tangan (tiap 3 ruas kecuali ibu jari)
b. Tulang tungkai
Ø 2 tl. Paha
Ø
2 tl. tempurung
lutut
Ø
2 tl. Kering
Ø
2 tl. Betis
Ø
2 x 7 tl. pergelangan kaki
Ø
2 x 5 tl. telapak kaki
Ø 2 x 14 ruas tl. jari kaki (tiap jari 3 ruas
kecuali ibu jari 2 ruas)
Termodinamika UMM
Termodinamika mempelajari pengaruh dari kerja, aliran panas,
dan energi dalam sistem dan perubahan perpindahan energi termal/kalor.
Sifat pembatas :
o
Pembatas adiabatik : tidak ada pertukaran kalor
anatara sistem dan lingkungan
o
Pembatas tegar : tidak ada kerja baik dari sistem
terhadap lingkungan ataupun dari lingkungan terhadap sistem
Energi termal dan temperatur
·
energi termal/kalor adalah energi kinetik yang
melintas dari sistem ke sistem yang lain akibat adanya perbedaan temperatur
(joule)
·
temperatur adalah rata-rata energi kinetik
partikel di dalam satu sistem-bukan jumlah total energi kinetik partikel (derajat)
Perpindahan panas
Panas dapat diketahui dari tempat dengan temperatur lebih
tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Jadi pemberian atau pengurangan panas
tidak saja mengubah temperatur atau fasa zat suatu benda secara lokal,
melainkan panas itu merambat ke atau dari bagian lain benda atau tempat lain. Peristiwa
ini disebut perpindahan panas.
Metodenya meliputi :
·
Konduksi
Konduksi
transfer energi kinetik antar atom melalui proses tumbukan,
atom yang memiliki energi kinetik rendah dapat mengalami kenaikan energi
melalui proses tumbukan dengan atom yang memiliki energi kinetik.
Contoh : ketika tangan kita kedinginan kita akan merasa nyaman
memegang gelas panas atau pada saat panas kita berbaring di atas lantai yang
sejuk
·
Konveksi
Konveksi
Transfer energi akibat pergerakan dari zat/fluida (udara),
pada konveksi kalor, molekul-molekul yang menghantarkan kalor ikut bergerak
sesuai dengan gerak aliran kalor. Aliran kalor terjadi pada fluida (zat cair
dan gas) yang molekul-molekulnya mudah bergerak.
Contoh : kita akan merasa nyaman bila terkena hembusan angin
pada saat kita berkeringat.
·
Radiasi
Radiasi
Radiasi tidak memerlukan kontak fisik, semua benda
meradiasikan energi secara kontinyu dalam bentuk gelombang elektromagnetik
akibat dari vibrasi termal molekul. Radiasi kalor adalah kalor yang di
hantarkan dalam bentuk radiasi gelombang elektromagnetik. Energi radiasi per
satuan waktu persatuan luas, yang di pancarkan oleh suatu benda di sebut daya
radiasi
Contoh : termometer radiasi mengukur intensitas dari radiasi
infra merah dari gendang telinga
Rabu, 21 Agustus 2013
penemuan baru ilmu perkembangan pengetahuan
Alasan ilmiah manusia melihat cahaya menjelang ajal
Saat menjelang kematian – bahkan mati suri, banyak orang melaporkan seperti melihat cahaya terang. Pengalaman ini menimbulkan pertanyaan di benak ilmuwan, apa penyebabnya?
Dalam studi terbaru, seperti diberitakan BBC, Selasa (13/8/2013), ilmuwan mengungkapkan bahwa cahaya terang yang dilihat saat mendekati kematian (disebutNDE: Near Death Experience) mungkin saja dipicu oleh lonjakan aktivitas elektrik pada zona otak yang bertanggung jawab untuk penglihatan.
Dalam studi terbaru, seperti diberitakan BBC, Selasa (13/8/2013), ilmuwan mengungkapkan bahwa cahaya terang yang dilihat saat mendekati kematian (disebutNDE: Near Death Experience) mungkin saja dipicu oleh lonjakan aktivitas elektrik pada zona otak yang bertanggung jawab untuk penglihatan.
![]() |
| livescience.com |
“Banyak orang mengira otak tidak aktif atau ada dalam aktivitas rendah (hipoaktif) setelah seseorang dinyatakan meninggal secara medis. Kami menunjukkan jika bukan hal tersebut yang terjadi,” ujar Dr Jimo Borjigin dari University of Michigan yang menjadi penulis utama studi ini.
“Justru, maka otak menjadi lebih aktif saat menjelang kematian daripada ketika seseorang masih hidup,” tambah Borjigin yang memublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Metode Penelitian
Borjigin dan rekannya memonitor aktivitas otak sembilan ekor tikus yang sekarat. Tiga puluh detik setelah jantung berhenti berdetak, gelombang otak frekuensi tinggi yang disebut osilasi gamma ternyata melonjak.
Gelombang tersebut adalah salah satu dari fitur saraf yang diduga mendukung dengan kesadaran pada manusia, terutama saat berperan menggabungkan informasi dari bagian otak yang berbeda. Pada tikus, aktivitas otak ini justru lebih tinggi sesaat setelah jantung berhenti daripada saat sadar.
“Justru, maka otak menjadi lebih aktif saat menjelang kematian daripada ketika seseorang masih hidup,” tambah Borjigin yang memublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Metode Penelitian
Borjigin dan rekannya memonitor aktivitas otak sembilan ekor tikus yang sekarat. Tiga puluh detik setelah jantung berhenti berdetak, gelombang otak frekuensi tinggi yang disebut osilasi gamma ternyata melonjak.
Gelombang tersebut adalah salah satu dari fitur saraf yang diduga mendukung dengan kesadaran pada manusia, terutama saat berperan menggabungkan informasi dari bagian otak yang berbeda. Pada tikus, aktivitas otak ini justru lebih tinggi sesaat setelah jantung berhenti daripada saat sadar.
![]() |
| consciouslifenews.com |
Menurut Borjigin, hal yang sama mungkin juga terjadi pada manusia. Peningkatan aktivitas otak dan kesadaran bisa memicu penglihatan-penglihatan saat menjelang kematian atau ketika mengalami mati suri.
“Ini dapat memberikan kerangka untuk membantu menjelaskan (pengalaman melihat cahaya saat mendekati kematian). Fakta bahwa seseorang melihat cahaya sebelum meninggal mengindikasikan bahwa korteks visual dalam otak memiliki aktivitas yang tinggi,” kata Borjigin.
Perayaan terakhir
Menanggapi hasil riset ini, Jason Braithwaite dari University of Birmingham berpendapat bahwa fenomena ini semacam “perayaan terakhir” yang dilakukan oleh otak. Temuan ini mendemonstrasikan pendapat yang diyakini sejak lama, yakni dalam kondisi tak biasa, aktivitas otak bisa melonjak.
Menanggapi hasil riset ini, Jason Braithwaite dari University of Birmingham berpendapat bahwa fenomena ini semacam “perayaan terakhir” yang dilakukan oleh otak. Temuan ini mendemonstrasikan pendapat yang diyakini sejak lama, yakni dalam kondisi tak biasa, aktivitas otak bisa melonjak.
Dr Chris Chambers dari Cardiff University menyatakan, masih sangat sedikit yang diketahui tentang kematian pada manusia. Temuan menarik ini dapat membuka pintu untuk studi lebih jauh pada manusia sendiri.
“Namun kita juga harus sangat berhati-hati sebelum menarik kesimpulan tentang pengalaman mendekati kematian pada manusia. Perlu dilakukan pengukuran aktivitas otak pada tikus selama proses jantungnya berhenti berdetak untuk mengetahui hubungan dengan pengalaman pada manusia,” tambahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

